Fakta dan Imajinasi Sains Dalam Film Avengers: Endgame

Fakta dan Imajinasi Sains Dalam Film Avengers: Endgame

Naviri Magazine - Avengers: Endgame sudah tayang di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Sama seperti yang terjadi di mana pun, para penonton di Indonesia antusias menontonnya, bahkan ada bioskop yang sampai membuka gedung sejak subuh sampai dini hari, untuk membuka kesempatan bagi siapa pun yang ingin segera menonton film tersebut.

Belakangan, film spektakuler itu dikupas dua ilmuwan Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (Almi), dari kacamata sains. Kedua ilmuwan itu mengaitkan film tersebut dengan sains dalam diskusi publik bertajuk "The Science Behind the Avengers End Game", dipandu moderator Prodita Sabarani, yang digelar di Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat, Selasa (14/5/2019).

Ahli fisika yang juga Guru Besar Fakultas Matematika dan IPA Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Husin Alatas, menyebut Avengers: Endgame itu film Hollywood dengan durasi Bollywood, namun banyak orang yang penasaran untuk menyaksikannya.

Ucapan Husin bukan tanpa alasan, menilik data Box Office Mojo dan The Numbers, sejak Marvel Cinematic Universe dengan kisah perjalanan Infinity War diperkenalkan pertama kali lewat Iron Man (2008), hingga Endgame yang menjadi film ke-22, seri Avengers selalu muncul dengan durasi paling lama.

Dalam film yang digarap oleh Marvel Studios itu, kata dia, disinggung teori kuantum, termasuk "Close Timelike Curves" (CTC) yang menghubungkan dua waktu berbeda, sehingga memungkinkan perjalanan waktu atau "time travel" ke masa lalu.

Apakah CTC itu merupakan kenyataan? Menurut Husin, tidak. Dia berpendapat jangan terlalu menganggap serius CTC dalam skala relatif besar. Alasannya, dilarang oleh hukum kedua termodinamika, terkait kompleksitas yang mengizinkan arah waktu hanya menuju masa depan.

"Tidak. Kalau memang itu bisa dilakukan, obyek akan terperangkap di dalam 'black hole' setelah mencapai masa lalu," tegasnya.

Pendapat serupa dilontarkan ahli fisika dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yudi Darma. Di awal pembicaraannya, Yudi menyebut "Time travel is impossible!" (perjalanan waktu tidak mungkin dilakukan).

Yudi menjelaskan perjalanan waktu yang dilakukan Thanos. Jika Thanos sudah dibunuh di 2014, maka dia tidak akan melakukan The Snap pada tahun 2018.

"Jika Anda kembali ke masa lalu dan membunuh kakek Anda ketika dia masih muda, maka Anda tidak akan pernah bisa dilahirkan. Jika Anda tidak dilahirkan, lalu bagaimana Anda kembali (ke masa lalu) dan membunuhnya?" tegas Yudi.

Avengers, menurutnya, mengolok-olok banyak film "Time Travel" yang memungkinkan mengubah masa lalu dan masa depan sendiri. Sebagai gantinya, tambah Yudi, dalam Endgame mereka mengikuti gagasan realitas alternatif.

"Di sini, setiap perubahan pada masa lalu akan menyebabkan alam semesta yang sama sekali baru diciptakan. Ini disebut splitting or branching off of multiple timelines. Dalam fisika, gagasan ini disebut Many Worlds Theory," paparnya.

Many Worlds Theory atau Many Worlds Interpretation adalah teori mekanika kuantum yang dicetuskan peneliti Amerika Serikat, Hugh Everett III, pada era 1950-an.

Menurut teori itu, jika sebuah aksi berpeluang menghasilkan beberapa hasil berbeda, maka efek kuantum akan membuat semesta bercabang saat aksi itu dilakukan. Setiap cabang menggambarkan masing-masing alternatif hasil itu.

Sisi positif untuk bahan riset

Selain menampilkan sejumlah hal imajinatif, Avengers: Endgame, sebut Yudi, menyuguhkan beragam sisi positif yang bisa dikembangkan untuk bahan riset dalam kehidupan nyata.

Dia mencontohkan, para tokoh dalam film tersebut memanfaatkan sejumlah "smart materials". Smart (intelligent/responsive) materials ini jelasnya, bahan yang dapat bereaksi terhadap gangguan atau rangsangan eksternal (temperatur, tekanan, bahan kimia, cahaya, gelombang, dan lain-lain) dan memiliki beragam sifat dasar.

Bahkan, sambungnya, ada juga smart and intelligent materials. "Secara umum, ini adalah bahan yang bereaksi terhadap kondisi yang berubah, tanpa perlu intervensi manusia," paparnya.

Tak hanya itu, dalam serial Avengers juga, tambah Yudi, dipamerkan sejumlah teknologi yang bersifat "implantable smart material". Lalu, kata Yudi, apakah smart material-nanoteknologi itu nyata seperti yang digambarkan dalam Iron Man dan Ant-Man?

Beberapa peneliti, jelasnya, telah menunjukkan beragam material yang dapat digunakan untuk membuat pakaian/kain yang kuat. "Seperti yang digunakan untuk membuat pakaian militer," jelasnya.

Nanoteknologi, menurutnya, dapat digunakan untuk membuat bahan dengan kekuatan mekanik yang lebih tinggi, dan pada prinsipnya dapat membuat pakaian super kuat. "Namun, baju atau pakaian yang terbuat dari bahan berteknologi nano yang digunakan dalam film pada umumnya masih berupa fantasi pada saat ini," tukas Yudi.

Selain itu, Yudi mencontohkan pakaian atau setelan Iron Man yang disusun dalam sebuah rangkaian nanopartikel neurokinetik yang dapat dikendalikan penggunannya.

"Itu sangat imajinatif dan tidak semuanya benar, namun ini bisa memberikan ide penelitian yang menarik," tandasnya.

Kemampuan pakaian para pahlawan super itu saat ini sangat dibesar-besarkan. Tetapi, menurutnya, bisa dijadikan ide oleh para ilmuwan dan para insinyur dalam pengembangan "smart materials" bahkan "smart clothing" pada masa depan.

"Begitu juga dengan teknologi controlling electronic devices with brain waves (mengontrol gawai elektronik dengan gelombang otak), Toyota pernah melakukannya. Tapi tak bisa sempurna seperti di film, masih memerlukan banyak kabel yang terhubung," pungkas Yudi.

Pada tahun 2009, Toyota, raksasa otomotif dari Jepang, pernah mempertontonkan teknologi ciptaan mereka yang membuat gelombang otak bisa menggerakkan kursi roda melalui perantara EEG (electroencephalograph).

Related

Science 3597388712770909938

Recent

item