Duh! Demi Punya iPhone 11, Wanita Ini Rela Menjual Keponakannya

  Duh! Demi Punya iPhone 11, Wanita Ini Rela Menjual Keponakannya

Naviri Magazine - Seorang wanita di Vietnam tega menjual keponakannya sendiri. Hal ini lantaran ia ingin mendapatkan iPhone 11.

Wanita tersebut diketahui bernama Hanh. Ia dipercaya kerabatnya untuk sesekali merawat keponakannya yang berusia dua tahun, bernama Ng.

Kejadian bermula pada Oktober lalu, ketika Hanh mengajak Ng jalan-jalan. Di saat yang sama, Hanh melakukan video call di messager dengan Vinh, teman yang baru dia kenal di media sosial. Selama melakukan panggilan video, Vinh memuji bahwa Ng sangat lucu.

Hanh kemudian berbohong pada Vinh, dan mengatakan bahwa ayah balita itu telah meninggalkannya. Sementara ibunya kecanduan judi dan narkoba, dan berencana mengirimnya ke kuil untuk dirawat.

Saat itulah Vinh menawarkan untuk mengadopsi Ng, dan berjanji akan memberi iPhone 11 dan sejumlah uang sebagai gantinya. Hanh menyetujui hal ini.

Keesokan paginya, Hanh pergi untuk menjemput Ng dari rumah neneknya, dan mengatakan bahwa ia akan mengajak balita itu bermain. Padahal sebenarnya Hanh mengajak Ng untuk bertemu Vinh. Dalam pertemuan tersebut, Vinh kemudian memberi Rp930 ribu pada Hanh untuk biaya naik taksi, dan iPhone 11, seperti yang sudah disepakati sehari sebelumnya.

Setelah menjual keponakannya, Hanh kembali ke rumah neneknya. Menyadari Ng tidak ada, sang nenek pun bertanya di mana Ng. Hanh l berbohong bahwa Ng ada di rumahnya.

Untuk menyembunyikan jejaknya dan menghindari kecurigaan dari kerabatnya, Hanh membuat laporan polisi, dan mengatakan bahwa Ng telah hilang. Polisi kemudian menyelidiki masalah ini.

Namun, polisi mendapati sesuatu yang salah tentang kasus ini, dan meragukan kesaksian Hanh. Setelah ditelusuri, Hanh akhirnya mengakui bahwa dia telah menjual keponakannya ke Vinh demi mendapatkan iPhone 11.

Akhirnya pada 3 November lalu, polisi menangkap Vinh di rumahnya. Vinh dan Hanh kemudian dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi, sedangkan Ng dipulangkan kembali ke keluarganya.

Ahli terapi klinis pernikahan dan keluarga berlisensi di Baltimore, Lauren Aycock Anderson, menyatakan bahwa anak-anak yang mengalami trauma berada pada risiko yang jauh lebih besar terkena gangguan kesehatan mental seperti depresi, kecemasan, kecanduan, ADHD, dan PTSD. Kesehatan fisik mereka juga terpengaruh secara negatif.

"Anak-anak kecil cenderung menginternalisasi trauma dan pengalaman negatif. Ini bisa menjadi efek jangka panjang dan menyebabkan perilaku merusak diri sendiri pada masa dewasa nanti," tukas Anderson, dikutip dari Psychology Today.

Selain itu, menurut sebuah penelitian, efek pemisahan ibu dan anak bisa menyebabkan anak berperilaku agresif ke depannya. Bahkan pemisahan selama seminggu dalam dua tahun pertama kehidupan terkait dengan tingkat negativitas dan agresi anak yang lebih tinggi.

Related

World's Fact 6062457179137109233

Recent

item