Benarkah Sering Memakai Ponsel Akan Memunculkan Tanduk di Kepala?

Benarkah Sering Memakai Ponsel Akan Memunculkan Tanduk di Kepala?

Naviri Magazine - Surat kabar The Washington Post menerbitkan artikel yang menyoroti penelitian David Shahar dan Mark Sayers—dua pakar ilmu kesehatan masyarakat dari University of the Sunshine Coast, Australia—yang mengklaim terjadi pertumbuhan tanduk kecil pada bagian bawah tengkorak anak-anak muda.

Media bilang, penelitian keduanya menyimpulkan bila tulang anomali ini muncul dipicu seringnya posisi kepala subyek penelitian menunduk, akibat keseringan menggunakan perangkat elektronik (ponsel pintar).

Penelitian David dan Mark berfokus pada enthesofit, alias pertumbuhan tulang akibat kombinasi faktor-faktor kimia, genetik, dan lingkungan. Mereka menyimpulkan “tanduk” di bawah tengkorak ini sering ditemukan, khususnya pada anak-anak muda yang lahir setelah tahun 2000-an.

Penelitian mereka sebelumnya, yang terbit pada 2016, mengklaim dari 218 responden di rentang usia 18 sampai 30 tahun, sebanyak 41 persen di antaranya mempunyai enthesofit kecil di bagian bawah tengkorak mereka.

Pada 2018, para peneliti memeriksa empat laki-laki dari usia 13 sampai 16 yang mempunyai enthesofit. Disimpulkan, keempat laki-laki tersebut tidak mempunyai penanda genetik awal yang berkaitan dengan potensi pertumbuhan tulang tambahan.

Para peneliti awalnya sama sekali tidak mengaitkan pertumbuhan tulang dengan dampak teknologi atau ponsel pintar dalam penelitian yang terbit pada 2018. Tetapi mereka sempat membuat spekulasi mengenai adanya efek keseringan pakai ponsel dalam penelitian dua tahun sebelumnya.

Shahar dan Sayers membuat hipotesis, prevalensi enthesofit kemungkinan berkaitan dengan "penggunaan teknologi genggam dari usia muda."

Ingat, penelitian keduanya tidak berusaha membuktikan penggunaan perangkat elektronik menyebabkan enthesofit. Mereka juga tidak mengklaim penggunaan perangkat elektronik dan munculnya enthesofit saling berkaitan. Mereka hanya menjelaskan hipotesa ini di seksi pembahasan, dengan harapan bisa diteliti lebih lanjut.

Artikel Washington Post yang bikin heboh itu didasarkan pada artikel yang diterbitkan BBC, yang juga menyoroti temuan David dan Mark. Berbagai pemberitaan media media arus utama berusaha mengarahkan kesimpulan penelitian tersebut, seakan-akan penggunaan ponsel dan perangkat elektronik yang terlalu intensif mengubah manusia menjadi monster bertanduk. Wajar kalau orang panik karena hubungan kita saat ini dengan teknologi terwujud secara fisik, sampai-sampai bisa terlihat melalui ronsen.

Masalahnya, diskusi seputar penelitian ini sebenarnya sekadar kepanikan moral mengenai penggunaan teknologi di masa modern.

Kita pernah menyaksikan kepanikan serupa, ketika media massa beramai-ramai membahas “kelingking ponsel pintar,” yang dimulai dengan kabar bahwa lengkungan kelingking (yang sebetulnya alami) disebabkan seringnya kita menggenggam ponsel di jari kelingking.

Lalu, ada mitos Momo, monster mengerikan yang menurut sumber yang tidak bisa diandalkan, menyuruh anak-anak bunuh diri melalui video-video YouTube. Berita Momo menimbulkan kepanikan moral di kalangan ortu, mengenai konten yang dilihat anak-anak lewat internet.

Tanduk-tanduk yang tumbuh di anak muda ini faktanya memang ada. Sudah ada bukti radiologis. Masalahnya, belum bisa disimpulkan secara ilmiah apakah anomali tubuh ini memang disebabkan pemakaian ponsel pintar. Selain itu, juga belum terdapat gejala merata yang bisa membuat kita menarik kesimpulan akademis dari temuan tersebut.

Lagi pula, bukan hanya ponsel pintar yang membuat kita menundukkan kepala. Membaca buku, menulis, dan banyak kegiatan harian lainnya, memerlukan posisi tubuh yang sama seperti saat kita menggunakan ponsel pintar.

Ada juga alasan lain kenapa orang menderita postur buruk yang sama sekali tidak berkaitan dengan penggunaan ponsel. Sebuah postingan dari Fakultas Kedokteran Harvard menyatakan, otot punggung dan bokong yang lemah dapat memicu bentuk badan tidak proporsional.

Shahar dan Sayers, dalam penelitian mereka yang terbit pada 2016, menyatakan 15,2 persen responden mereka mengalami gejala “simtomatik”, setelah muncul tanduk kecil tersebut. Akan tetapi, gejala yang dilaporkan adalah “sakit kepala ringan.” Kesimpulan jelas tidak memperkuat spekulasi soal pemakaian ponsel pintar, dan gejala macam itu dapat disebabkan banyak hal.

Pada 2018, kedua akademisi itu menerbitkan penelitian lain, mengamati empat remaja laki-laki yang memiliki tanduk kecil. Mereka menyimpulkan, empat remaja ini sama sekali tidak merasa kesakitan, dan tak menunjukkan gejala-gejala memprihatinkan. Orang tua mereka cuma khawatir dengan postur tubuhnya yang buruk.

"Perlu diingat bahwa analisis radiologi dan postural pada para remaja ini awalnya dimulai oleh kekhawatiran orang tua akan postur masing-masing peserta," seperti dikutip dari penelitian mereka. "Itu berarti, semua peserta dinyatakan asimtomatik."

Dalam wawancara terpisah, para orang tua hanya khawatir dengan postur anak-anak mereka sejak “usia dini”. Berhubung para remaja ini lahir antara 2002 hingga 2005, ada kemungkinan mereka memang terbiasa memainkan gawai dari kecil. Kebiasaan tersebut atau faktor lain sangat mungkin menjadi penyebabnya. Buruknya postur tubuh mereka juga bisa disebabkan oleh kelainan otot-rangka tertentu.

Pada April 2019, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengeluarkan serangkaian rekomendasi yang menganjurkan ortu dan pengasuh membatasi "waktu anak di bawah lima tahun di depan layar sambil duduk", terutama saat menonton video pada ponsel, tablet, komputer atau TV.

Rekomendasi itu secara khusus membatasi aktivitas menonton di layar, agar tak lebih dari satu jam sekali main. Menurut WHO, bayi di bawah satu tahun sebaiknya tidak dibiasakan sama sekali menonton dan memainkan gawai.

Rekomendasi itu dibuat, karena terlalu lama menyaksikan layar tak bagus untuk psikologi anak-anak, bukan karena dampak kesehatannya lebih buruk daripada aktivitas diam lainnya.

Para peneliti lain juga menemukan pertumbuhan tulang yang tak berbahaya di dasar tengkorak sejumlah anak muda. Pertumbuhan ini patut diingat, bukan karena penggunaan ponsel pintar, melainkan dampak dari postur yang buruk.

Ada masalah yang lebih penting dibahas soal efek gawai terhadap anak, terutama mengenai platform-platform yang menargetkan anak kecil sebagai pelanggan masa depan, dengan menyediakan layanan “ramah anak”. YouTube sekarang menyediakan YouTube Kids, sementara Amazon punya Amazon for Teens. Tak hanya itu, Facebook juga memiliki Messenger Kids.

Layanan perusahaan-perusahaan teknologi ini berisiko memicu gangguan psikologis terhadap anak-anak yang tak semestinya, karena Amazon atau YouTube sejak awal tidak didirikan untuk membantu tumbuh kembang anak. Perusahaan semacam ini beroperasi demi menayangkan iklan dan memperoleh keuntungan.

Padahal keuntungan raksasa teknologi itu makin besar, apabila anak-anak semakin lama memainkan gawainya.

Intinya, daripada capek-capek meributkan isu yang tidak penting (misal, ponsel katanya bisa menumbuhkan tanduk) dan menyebarkan kabar sumir itu di grup WA, lebih baik para ortu membahas bahaya dominasi platform media sosial terhadap kondisi psikologis generasi penerus kita.

Related

Smartphone 2899681526118437599

Recent

item