Biografi Dwight D. Eisenhower, Presiden Amerika di Masa Perang Dunia

Biografi Dwight D. Eisenhower, Presiden Amerika di Masa Perang Dunia, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Dwight David Eisenhower lahir di Denison, Texas, pada 14 Oktober 1890. Dia dikenal dengan nama panggilan "Ike", dan merupakan politikus Amerika. Ia menjabat Presiden Amerika Serikat ke-34 (1953–1961).

Pada Perang Dunia II, ia adalah Panglima Tertinggi Sekutu di Eropa, dengan pangkat Jenderal Angkatan Darat. Pada 3 Januari 1959, ia meresmikan penetapan Alaska sebagai negara bagian yang ke-49, yang merupakan wilayah terluas di Amerika. Eisenhower adalah satu-satunya presiden yang pernah berdinas dalam Perang Dunia I maupun Perang Dunia II.

Perjalanan karier

Dwight D. Eisenhower lahir di Denison, negara bagian Texas. Sebelum menjadi Presiden Amerika ke-34, Dwight Eisenhower telah mempunyai karier mengesankan dalam bidang kemiliteran. Ia mahir dalam menjalankan tugas sebagai anggota staf, dan ia menjalankan tugas di bawah tiga Jenderal, antara lain Jenderal Douglas McArthur.

Setelah Jepang menyerang Teluk Mutiara di Hawaii, pada Desember 1940, Kepala Staf Amerika, Jenderal George Marshall, mengangkat Dwight Eisenhower menjadi Kepala Bagian Perencanaan Perang, Staf Umum Departemen Perang Amerika, dan kemudian menjadi Pembantu Kepala Staf. Tak lama sesudah itu, ia naik pangkat menjadi Mayor Jenderal.

Pada November 1942, sebagai Letnan Jenderal, Dwight Eisenhower memimpin pendaratan tentara sekutu di Afrika Utara.

Pada 1944, ia diangkat menjadi Panglima Tertinggi Pasukan Sekutu yang menyerbu Perancis. Penyerbuan itu akhirnya menghasilkan penyerahan Jerman pada 8 Mei 1945.

Masa kepresidenan

Sesudah perang, Dwight Eisenhower berturut-turut menjadi Kepala Staf Angkatan Darat Amerika, Presiden Universitas Columbia di New York, dan Panglima Tertinggi pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO, di Paris.

Pada saat itu, baik Partai Demokrat maupun Partai Republik membujuknya supaya bersedia menjadi calon presiden masing masing. Akhirnya ia terpilih menjadi presiden dengan perbedaan suara yang banyak sekali.

Dengan berunding berdasarkan kekuatan militer, Presiden Dwight Eisenhower berusaha meredakan ketegangan akibat perang dingin. la antara lain berhasil mengadakan penghentian tembak menembak sepanjang perbatasan Korea Selatan, dan menutup perjanjian perdamaian yang menjadikan Austria sebuah negara netral.

Presiden Dwight Eisenhower, yang dua kali berturut-turut menjadi presiden sampai 1960, menyebut dirinya seorang moderat.

    * la berpegang pada sistem pasar bebas.
    * Menentang pengawasan pemerintah atas harga barang-barang dan kenaikan gaji.
    * Mencegah keterlibatan pemerintah dalam pertentangan antara kaum buruh dan pihak majikan.
    * Mendorong program-program peluru kendali, dan melanjutkan bantuan luar negeri.

Pada awal masa pemerintahannya, Mahkamah Agung Amerika Serikat memerintahkan desegregasi sekolah di seluruh Amerika. Untuk menjamin agar sekolah-sekolah di kota Little Rock di negara bagian Arkansas taat pada keputusan mahkamah federal untuk mengadakan desegregasi, Presiden Dwight Eisenhower mengirim pasukan tentara ke kota tersebut.

Ia juga memerintahkan desegregasi dijalankan sepenuhnya di kalangan angkatan bersenjata Amerika. Ia berkata, “Di Amerika Serikat tidak boleh ada warga negara kelas dua.”

Presiden Dwight Eisenhower memusatkan perhatiannya pada usaha memelihara perdamaian dunia;

Ia mengadakan program rakyat ke rakyat. yang mengajurkan agar rakyat biasa dari semua negara saling bertemu dan berbicara untuk memupuk saling pengertian dan persahabatan.

Dari program ini, timbullah program hubungan persaudaraan antara kota-kota Amerika dan kota-kota negara-negara lain. Kini lebih dari 100 kota Amerika mempunyai hubungan semacam itu dengan kota-kota di seluruh dunia. Program ini dinamakan sister city.

Presiden Eisenhower dengan gembira menyaksikan perkembangan program "atom untuk perdamaian." Dalam program itu, Amerika menyumbangkan uranium kepada negara-negara berkembang demi kesejahteraan manusia. Pada 1964, Indonesia mendapat bantuan sebanyak $350.000 sebagai sumbangan untuk pembangunan reaktor atom di Bandung.

Setelah masa kepresidenan

Sebelum meninggalkan Gedung Putih pada Januari 1961, Presiden Eisenhower menganjurkan agar kekuatan militer Amerika tetap dipelihara, tetapi juga memperingatkan bahwa pengeluaran anggaran belanja yang sangat besar dan terus menerus untuk keperluan militer dapat membahayakan cara hidup rakyat Amerika.

Dalam kata perpisahannya, ia berdoa semoga semua bangsa di dunia hidup bersama dalam damai, berdasarkan kasih sayang dan saling menghargai antara sesama manusia.

Eisenhower meninggal dunia akibat serangan jantung pada 28 Maret 1969 di Washington, D.C. Ia meninggalkan istri dan seorang putra yang kala itu sedang bertugas sebagai Duta Besar Amerika untuk Belgia.

Related

History 3421111258423281051

Recent

item