Kisah Lengkap The Beatles, Grup Musik Legendaris Sepanjang Masa (Bagian 9)

Kisah Lengkap The Beatles, Grup Musik Legendaris Sepanjang Masa, naviri.org, Naviri Magazine, naviri majalah, naviri

Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Lengkap The Beatles, Grup Musik Legendaris Sepanjang Masa - Bagian 8). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Di antara nomor psikedelik lain mulai direkam seperti Tomorrow Never Knows, Strawberry Fields Forever, Lucy in the Sky with Diamonds, dan I Am the Walrus. Pengaruh musik tradisional India muncul dalam lagu-lagu yang diciptakan Harrison, seperti Love You To dan Within You Without You, yang menurut Gould, "to replicate the raga form in miniature". ("meniru raga dalam bentuk miniatur").

Dalam White Album, semakin tampak kompleksitas dan ragam warna musik yang dikreasikan The Beatles secara individu, antara lain ditunjukkan dari lagu Revolution 9, karya musique concrète ("musik konkrit") Lennon, yang dipengaruhi oleh Yoko Ono; lagu country karya Starr yang berjudul Don't Pass Me By; lagu balada rock Harrison, While My Guitar Gently Weeps; dan "proto-metal" karya McCartney, Helter Skelter.

Kontribusi George Martin

Kedekatan George Martin dengan The Beatles sebagai produser membuatnya sebagai kandidat utama yang mendapat titel informal "fifth Beatle" (Beatle kelima). Ia mengarahkan untuk memberi sentuhan musik klasik dalam berbagai cara, contohnya lagu Yesterday, merupakan salah satu idenya.

Awalnya, The Beatles kurang antusias dengan konsep tersebut, namun akhirnya menjadi hal yang menguntungkan buat mereka.

Menurut Gould: "As Lennon and McCartney became progressively more ambitious in their songwriting, Martin began to function as an informal music teacher to them" ("Saat Lennon dan McCartney semakin ambisius secara progresif dalam menulis lirik lagu, Martin mulai berfungsi sebagai guru musik yang informal bagi mereka.")

Hal ini juga bertepatan dengan kesediaannya untuk bereksperimen menurut keinginan mereka – seperti menambahkan nuansa barok terhadap suatu lagu, dengan kata lain memfasilitasi perkembangan kreatif mereka. Selain mengaransemen orkestra, Martin juga sering berkontribusi memainkan piano, organ, dan brass.

Berkomentar mengenai perekaman Sgt. Pepper, Martin berkata, "Sergeant Pepper itself didn't appear until halfway through making the album. It was Paul's song, just an ordinary rock number and not particularly brilliant as songs go ... Paul said, 'Why don't we make the album as though the Pepper band really existed, as though Sergeant Pepper was making the record? We'll dub in effects and things.' I loved the idea, and from that moment on it was as though Pepper had a life of its own."

(“Sergeant Pepper itu sendiri belum muncul sampai setengah jalan pembuatan album. Itu adalah lagu Paul, lagu rock biasa dan tidak cukup menarik seperti lagu lain… Paul berkata , ‘kenapa tidak kita buat albumnya seakan-akan band Pepper benar-benar ada, seolah-olah Sergeant Pepper yang membuat rekamannya? Kita akan tambahkan efek dub dan hal-hal lainnya.’ Saya suka idenya, dan dari sejak itu seolah-olah Pepper mempunyai nyawanya sendiri.")

Mengingat betapa kuatnya lagu itu dibanding komposisi Lennon, Martin berkata: "Compared with Paul's songs, all of which seemed to keep in some sort of touch with reality, John's had a psychedelic, almost mystical quality ... John's imagery is one of the best things about his work—‘tangerine trees’, ‘marmalade skies’, ‘cellophane flowers’ ... I always saw him as an aural Salvador Dalí, rather than some drug-ridden record artist. On the other hand, I would be stupid to pretend that drugs didn't figure quite heavily in The Beatles' lives at that time. At the same time they knew that I, in my schoolmasterly role, didn't approve ... Not only was I not into it myself, I couldn't see the need for it; and there's no doubt that, if I too had been on dope, Pepper would never have been the album it was."

("Dibandingkan lagu-lagu Paul, yang semua karyanya tampak menjalin sentuhan dengan kenyataan, lagu John berkarakter psikedelik, kualitasnya hampir mistis... Perumpamaan John adalah salah satu yang terbaik dalam karyanya, ‘tangerine trees’, ‘marmalade skies’, ‘cellophane flowers’ ... Saya selalu melihatnya sebagai Salvador Dali aural, daripada seorang artis rekaman yang kecanduan narkotika. Di sisi lain, saya pasti bodoh jika pura-pura tidak tahu bahwa narkotika tidak turut berpengaruh besar dalam kehidupan The Beatles pada saat itu. Pada saat yang sama mereka mengetahui bahwa, dalam peran sebagai kepala sekolah, saya tidak setuju… Bukan hanya saya tidak menggunakannya, saya tak melihat perlunya hal itu; sudah nyata, jika saya juga kecanduan, Pepper tidak akan pernah menjadi album yang besar.")

Di studio

The Beatles memanfaatkan teknologi secara inovatif dan memperlakukan studio sebagai instrumen. Mereka meminta Martin dan teknisi rekaman bereksperimen atau mencoba hal baru yang "mungkin bisa menghasilkan suara bagus". Pada saat yang sama, mereka juga memanfaatkan kejadian-kejadian tertentu secara kreatif, seperti feedback gitar yang tak disengaja, resonansi botol gelas, atau suara kaset yang diputar terbalik.

Hal-hal seperti ini didukung oleh tangan dingin Martin dan teknisi EMI, seperti Norman Smith, Ken Townsend, dan Geoff Emerick, yang semuanya berkontribusi besar, mulai album Rubber Soul, khususnya Revolver, dan seterusnya.

Dengan banyak akal dalam studio, didapatkan metode efek suara, penempatan mikrofon yang tidak biasa, rekaman tape, double tracking, dan vari speed.

Mereka juga memadukan alat musik gesek, brass, dan alat musik India seperti sitar (bisa didengar di lagu Norwegian Wood; This Bird Has Flown) dan swarmandal (di lagu Strawberry Fields Forever). Mereka juga menggunakan alat musik elektronik seperti mellotron (di intro Strawberry Fields Forever) dan clavioline (di lagu Baby, You're a Rich Man).

Related

Music 6304047887973070543

Recent

item