Asal Usul Budaya Orang Jepang yang Sangat Menghargai Waktu


Naviri Magazine - Takehiko Hashimoto, dari Universitas Tokyo, melakukan penelitian dengan mempelajari catatan seorang Belanda, Willem Van Kettendyke, yang mengunjungi Jepang pada masa Edo (1603-1868). Dalam catatannya, Kattendyke menggambarkan bagaimana sistem waktu Jepang yang sangat sederhana, dan kesopanan orang-orang Jepang. 

Salah satu hal yang mengecewakan adalah bagaimana warga Jepang tidak paham dengan waktu. Berbeda dengan jam tetap, waktu di Jepang dibagi menjadi 6 partisi yang disebut “koku”, yang setiap bagian waktu ditandai dengan pemukulan gong di beberapa titik dalam sebuah wilayah. 

Pada era restorasi Meiji (1868-1912), tepatnya tahun 1873, Jepang menerima sistem ala Barat, dan melakukan akulturasi (perpaduan budaya asing dan lokal) terhadapnya. Jepang mulai mengenal sistem 24 jam ala Barat. Namun, sistem yang kemudian diberi nama “watokei” tersebut menggunakan penomoran Cina. 

Mungkin, penemuan sistem jam di Barat pada abad ke-15 mengubah kultur di Eropa, namun pengenalan sistem Jepang terhadap sistem jam pada akhir abad ke-16 tidak cukup mengubah kultur di Jepang, meski membuat masyarakat Jepang pada waktu itu lebih mengenal waktu. 

Restorasi Meiji adalah era yang mengubah segala-galanya di Jepang. Dalam periode inilah masyarakat Jepang mulai mengembangkan budaya tepat waktu. Pada era ini diterapkan beberapa hal, seperti sistem pendidikan, penanaman moral, dan program pemerintah membentuk masyarakat Jepang untuk disiplin dalam waktu. 

Era Meiji mengakhiri era samurai di Jepang, dan banyak Samurai (militer pada zaman itu) beralih profesi menjadi guru karena sistem shogun (sistem feodal dimana tuan tanah yang mempekerjakan Samurai memegang kendali) telah dilarang. 

Arahan dari Menteri Pendidikan Jepang mengharuskan siswa datang 10 menit sebelum pelajaran dimulai setiap harinya, dan jika tidak mereka akan menerima hukuman atas keterlambatan dari guru mereka yang mantan samurai. Hal tersebut membantu mengajarkan ketepatan waktu pada generasi baru. 

Era Meiji juga masa dimana modernisasi Jepang dimulai. Masyarakat Jepang mengubah pakaian mereka, sistem kesehatan dan pendidikan, tari-tarian, kesenian, arsitektur, makanan, dan lukisan, semuanya mulai mengadopsi kultur Barat, seperti Amerika dan Eropa. Mereka mulai menerapkan sistem waktu 7/24 jam ala Barat, dan hari dibagi menjadi 24 jam. Menit dan detik juga mulai diperkenalkan. 

“Sejak itu, melalui pendidikan, sosial, dan sistem militer, masyarakat Jepang mulai belajar tepat waktu. Terlebih lagi, pada Era Meiji, orang-orang mulai memakai jam mekanik,” kata Mashashi Abe, profesor multikultural dari Waseda Institute for Advanced Studies (WIAS) seperti dilansir IEA. 

Propaganda “waktu adalah uang” dan nasionalisme, yang salah satunya mengharuskan tepat waktu dalam rangka menghormati orang lain, juga membentuk masyarakat Jepang disiplin terhadap waktu. 

Karena sudah tertanam sejak masa sekolah, hal tersebut terbawa hingga dunia kerja. Untuk mendapatkan reputasi buruk di Jepang cukup mudah, tinggal datang terlambat. Rekor terlambat pada siswa Jepang juga menjadi catatan buruk yang memengaruhi penilaian universitas. 

Hukuman sosial turun temurun semacam itu, telah berhasil melanggengkan penanaman ketepatan waktu bagi masyarakat Jepang di era modern.

Related

Lifestyle 7446286722022089114

Recent

item