Hati-hati, Unggahan di Media Sosial ternyata Bisa Merusak Karier Kita


Naviri Magazine - Media sosial adalah tempat paling menyenangkan untuk ‘pamer’ atau berkeluh kesah bagi sebagian orang. Bagi kelompok ini, aktivitas receh seperti makan, bengong, atau sambat tentang pekerjaan kantor pun bisa jadi konten. Tapi bagaimana jika unggahan-unggahan itu justru menjadi bahan evaluasi atasan atau rekan kerja atas kinerja Anda?

Melakukan pembatasan pada konten digital bukan tindakan merepotkan yang sia-sia belaka. Urusan jejak digital nyatanya dapat mempengaruhi penilaian profesional dan kesempatan kerja di masa depan. Survei yang dilakukan Career Builder menyebutkan, sebanyak 40-60 persen manajer perusahaan mengamati medsos calon karyawannya.

Ada beberapa alasan bagi mereka untuk tidak menerima calon karyawan, dilihat dari unggahan media sosialnya. Sebanyak 46 persen memilih mencoret kandidat ketika menemukan unggahan provokatif atau tidak pantas. 

Lalu, 41 persen karena unggahan minuman beralkohol atau menggunakan narkoba. Ada 36 persen manajer mengeliminasi kandidat akibat rekam jejak buruk terhadap perusahaan sebelumnya.

Selebihnya adalah menyoal keterampilan komunikasi buruk 32 persen, akibat komentar diskriminatif SARA 28 persen, berbohong tentang kualifikasi 25 persen, membagikan informasi rahasia dari atasan sebelumnya, 24 persen. 

Kemudian, pelamar terkait dengan tindak kriminal 22 persen, nama di akun media sosial tidak profesional 21 persen, dan pelamar berbohong tentang ketidakhadiran mereka sebanyak 13 persen.

Namun, perlu diingat, meski sudah menerapkan pemisahan pada akun media sosial, Ariane Ollier dan Nancy P. Rothbard, profesor di bidang manajemen, penulis di laman Harvard, menekankan tidak ada strategi media sosial pribadi yang sempurna. Terkadang, meski sudah memisahkan akun media sosial, citra profesional tidak akan terlepas dari citra pribadi.

Contohnya ketika seorang jurnalis menyatakan pendapat politiknya di akun pribadi, bukan di akun profesional, publik akan tetap melihatnya sebagai pewarta yang tidak netral. Atau, pada seorang pebisnis, keputusan kerjasama dari klien bisa didasarkan pada penilaian pribadi, cara berkawan di dunia maya, dan rekam jejak bisnis yang ditelusuri dari akun media sosial pribadi.

Karenanya, kesadaran konteks dan kontrol diri sebagai pribadi maupun profesional penting diterapkan ketika membikin unggahan di media sosial. Dengan begitu, kita tak perlu khawatir terhadap dampak masa depan dari unggahan kita sekarang.

Related

Internet 2812994308687868776

Recent

item