Kisah Gadis Penjual Korek Api, yang Akan Membuatmu Menangis


Naviri Magazine - Di malam Natal, orang-orang berjalan dengan wajah gembira, memenuhi jalan kota. Di jalan itu, ada seorang gadis kecil mengenakan pakaian compang-camping, sedang menjual korek api. "Mau beli korek api? Ibu, belilah korek api ini.” 

"Aku tidak butuh korek api, di rumah ada banyak." Tidak ada seorang pun yang membeli korek api dari gadis itu.

Tetapi, kalau ia pulang tanpa membawa uang hasil penjualan korek api, ia akan dipukuli ayahnya. Ketika akan menyeberangi jalan, tiba-tiba sebuah kereta kuda berlari dengan kencang. Gadis itu melompat karena terkejut. 

Pada saat itu, sepatu yang dipakainya terlepas dan terlempar entah ke mana. Sedangkan sepatu sebelahnya jatuh di seberang jalan. Ketika gadis itu bermaksud pergi untuk memungutnya, seorang anak laki-laki memungut sepatu itu, lalu melarikan diri. "Wah, aku menemukan barang yang bagus."

Akhirnya, gadis itu bertelanjang kaki. Di sekitarnya, korek api jatuh berserakan. Sudah tidak bisa dijual lagi. Kalau pulang ke rumah, ia tidak dapat membayangkan hukuman yang akan diterima dari ayahnya. 

Apa boleh buat, gadis itu membawa korek api yang tersisa, lalu berjalan dengan lelah. Terlihat sinar yang terang dari jendela sebuah rumah. Ketika gadis itu pergi mendekatinya, terdengar suara tawa gembira dari dalam rumah.

Di rumah yang dihangatkan oleh api perapian, penghuninya terlihat sedang menikmati hidangan Natal yang lezat. Gadis itu meneteskan air mata. "Ketika ibu masih hidup, di rumahku juga merayakan Natal seperti ini." 

Dari jendela, terlihat pohon Natal berkelip-kelip, dan anak-anak yang gembira menerima banyak hadiah. Akhirnya, cahaya di sekitar jendela hilang, dan di sekelilingnya menjadi sunyi.

Salju yang dingin terus turun. Sambil menggigil kedinginan, gadis itu duduk tertimpa curahan salju. Perut terasa lapar, dan sudah tidak bisa bergerak. Gadis yang kedinginan itu mengembus-embuskan napasnya ke tangan. Tetapi, sedikit pun tak menghangatkannya. 

"Kalau aku menyalakan korek api, mungkin akan sedikit terasa hangat." Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek api dengan menggoreskannya di dinding.

Lalu, dari dalam nyala api muncul sebuah penghangat. "Oh, hangatnya." Gadis itu mengangkat tangannya ke arah tungku pemanas. Pada saat api itu padam, tungku pemanas pun menghilang. Gadis itu menyalakan batang korek api yang kedua. Kali ini, dari dalam nyala api muncul aneka macam hidangan.

Di depan matanya, berdiri sebuah meja yang penuh makanan hangat. "Wow! Kelihatannya enak." 

Kemudian, angsa panggang melayang menghampirinya. Tetapi, ketika ia berusaha menjangkau, apinya padam, dan hidangan itu menghilang. Gadis itu segera mengambil korek apinya, lalu menyalakannya lagi. 

Tiba-tiba, gadis itu sudah berada di bawah sebuah pohon Natal yang besar. "Wow! Lebih indah daripada pohon Natal yang terlihat dari jendela tadi." Pada pohon Natal itu terdapat banyak lilin yang bersinar. "Wah! Indah sekali!" 

Gadis itu tanpa sadar menjulurkan tangannya, lalu korek api bergoyang tertiup angin. Cahaya lilin itu naik ke langit, dan semakin redup. Lalu berubah menjadi bintang yang sangat banyak.

Salah satu bintang dengan cepat menjadi bintang beralih. "Wah, malam ini ada seseorang yang mati dan pergi ke tempat Tuhan... Waktu Nenek masih hidup, aku diberitahu olehnya." 

Sambil menatap ke arah langit, gadis itu teringat pada neneknya yang baik hati. Kemudian gadis itu menyalakan sebatang korek lagi. Lalu di dalam cahaya api muncul wujud nenek yang dirindukannya. Sambil tersenyum, nenek menjulurkan tangannya ke arah gadis itu.

"Nenek!" Serasa mimpi, gadis itu melompat ke dalam pelukan Nenek. "Oh, Nenek, sudah lama aku ingin bertemu," Gadis itu menceritakan peristiwa yang dialaminya, di dalam pelukan nenek yang disayanginya. 

"Kenapa Nenek pergi meninggalkanku seorang diri? Jangan pergi lagi. Bawalah aku pergi ke tempat Nenek." Pada saat itu, korek api yang dibakar gadis itu padam. "Ah, kalau apinya mati, Nenek pun akan pergi juga. Seperti tungku pemanas dan makanan tadi..."

Gadis itu segera mengumpulkan korek api yang tersisa, lalu menggosokkan semuanya. Gulungan korek api itu terbakar, dan menyinari sekitarnya seperti siang hari. 

Nenek memeluk gadis itu dengan erat. Dengan diselimuti cahaya, nenek dan gadis itu pergi naik ke langit, dengan perlahan-lahan. "Nenek, kita mau pergi ke mana?" 

"Ke tempat Tuhan berada."

Keduanya semakin lama semakin tinggi ke arah langit. Nenek berkata dengan lembut kepada gadis itu, "Sesampai di surga, ibumu menunggu dan menyiapkan makanan yang enak untuk kita." 

Gadis itu tertawa senang. Pagi harinya, orang-orang yang lewat di jalan menemukan gadis penjual korek api tertelungkup di dalam salju. "Gawat! Gadis kecil ini jatuh pingsan di tempat seperti ini. Cepat panggil dokter!"

Orang-orang yang berkumpul menyesalkan kematian gadis itu. Ibu yang menolak membeli korek api pada malam kemarin menangis dengan keras dan berkata, "Kasihan kamu, Nak." 

Orang-orang kota mengadakan upacara pemakaman gadis itu, dan berdoa kepada Tuhan, agar mereka mampu berbuat ramah, meskipun pada orang miskin.

Related

Romance 1541458596015473844

Recent

item