Kisah, Sejarah, dan Asal Usul Valentine’s Day (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah, Sejarah, dan Asal Usul Valentine’s Day - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Ketika peraturan dan undang-undang baru itu diberlakukan, seluruh kerajaan merasa diperlakukan tidak adil sekaligus tidak benar. Mereka merasa hak asasi mereka telah dicabut dengan cara sewenang-wenang sekaligus tak masuk akal. 

Tetapi tak ada orang yang berani menentang perintah itu, tak ada orang yang cukup gila untuk melanggar undang-undang raja mereka. Jadi, seluruh kerajaan hanya diam dan bungkam, menuruti perintah yang tak masuk akal itu, sekaligus dalam hati diam-diam mengutuk raja mereka.

Di saat itulah Valentinus muncul dan meneriakkan suara hatinya yang jujur, dan meminta kepada siapapun untuk tidak lagi menyembunyikan perasaan cintanya hanya karena adanya undang-undang yang dibuat oleh raja mereka. Lebih dari itu, dia bahkan menyatakan akan tetap menikahkan siapapun yang ingin menikah, tak peduli apapun konsekuensinya. 

“Cinta adalah jembatan tak kasatmata yang dibangun Tuhan untuk menyatukan satu hati manusia dengan hati manusia lainnya. Siapa pun yang melarang manusia untuk mencintai, dia menghancurkan jembatan suci ini. Karenanya, tetaplah saling mencintai. Dan jika kalian membutuhkanku untuk mengikatkan tali cinta itu dalam sebuah pernikahan, aku ada untuk kalian…”

Tentu saja yang dilakukan Valentinus itu langsung dianggap subversi yang menentang undang-undang negara. Tidak lama setelah “proklamasi cinta” itu dideklarasikan, Valentinus ditangkap dan dibuang ke penjara. Beberapa hari setelah itu pihak kerajaan menentukan waktu hukuman mati untuknya. 

Berita penangkapan sekaligus hukuman mati itu kemudian menyebar ke seluruh penjuru Romawi dan ada beribu-ribu orang yang bersimpati kepada sosok reformis itu. 

Setiap hari selalu ada berpuluh-puluh orang yang datang berkunjung ke penjara untuk menengok dan membesarkan hati Valentinus, bahkan ada perempuan-perempuan yang kemudian jatuh cinta kepadanya. Ironisnya, seorang perempuan yang jatuh cinta dan juga dicintai oleh Valentinus adalah anak perempuan dari si penjaga penjara.

Dari sinilah “romantisme pribadi” Valentinus dimulai. 

Setiap hari, si perempuan ini akan datang menjenguk kekasihnya di penjara, dan ayahnya akan diam-diam memperhatikan mereka. 

Tentu saja si penjaga penjara tersebut tidak menyetujui undang-undang raja mereka, sama seperti orang-orang yang lainnya. Tetapi, sama seperti orang-orang yang lainnya pula, si penjaga penjara ini tak berani berbuat apa-apa untuk menentang, apalagi menentang secara terang-terangan. 

Jadi, setiap kali anak perempuannya datang menjenguk si tahanan yang dijaganya, yang bisa dilakukannya hanyalah diam…dan diam-diam merasakan sesuatu berdesir di hatinya…merasakan bahwa “jembatan Tuhan yang tak kasatmata” itu bahkan sanggup menembus benteng penjara yang dijaganya…

Sampai hari eksekusi yang telah ditetapkan itu pun tiba. 

Hari itu, tepat pada tanggal 14 Februari, Valentinus menunggu-nunggu kedatangan kekasihnya, berharap dapat melihatnya terakhir kali sebelum kematian menjemputnya. Tetapi sebelum kekasihnya datang mengunjunginya, para algojo sudah datang ke sel penjaranya dan membawanya ke tempat hukuman matinya.

Tahu bahwa kesempatannya untuk bertemu sang kekasih tak dapat diraihnya, Valentinus segera menulis kata-kata singkat di selembar kertas yang kemudian ia titipkan pada si penjaga penjara untuk disampaikan kepada putrinya. Setelah itu, ia pun melangkah bersama pengawalnya, menuju akhir hidupnya, menuju kematiannya…

Beberapa saat setelah itu, si perempuan datang untuk menengok kekasihnya seperti biasa, tapi sel penjara Valentinus telah kosong, dan suatu kesadaran yang mengerikan segera menyergap pikirannya. Sebelum sempat ia berbuat apa-apa, si penjaga penjara—ayahnya—datang dan memberikan secarik kertas kecil untuknya. Si anak perempuan menerimanya, membacanya, dan mendapati sebuah kalimat singkat berbunyi, “Love, from your Valentine”.

Perempuan itu terjatuh, terduduk, bersimpuh dan terisak-isak di depan jeruji penjara kekasihnya—bukan hanya menangisi kematian sosok orang yang amat dicintainya, tetapi juga menangisi kebebasannya, menangisi hak asasinya yang kini telah terenggut karena hasrat egois dan kebutaan akal pikiran di balik undang-undang yang berdasarkan nafsu kekuasaan manusia. 

Dan tak jauh dari tempat itu… ayahnya memalingkan muka dan menitikkan air mata.

Related

Romance 4565912576876319550

Recent

item