Apa yang Tersimpan di Dalam Ka’bah di Mekkah? Ini Penjelasannya


Naviri Magazine - Tidak semua orang tahu apa yang ada di dalam Ka’bah, sebab hanya orang-orang penting seperti presiden sebuah negara yang berhak memasukinya. Itu pun karena menjadi tamu raja di negara itu.

Meski begitu, isi Ka’bah bukanlah rahasia, karena pihak pemerintah Saudi juga tidak melarang untuk menjelaskan mengenai hal tersebut. Dari foto-foto yang pernah dibuat, masyarakat dunia pun akhirnya tahu apa yang ada di dalam Ka’bah, dan berikut ini penjelasannya.

Mulai dari sebelah kiri pintu Ka’bah adalah Multazam (antara pintu Ka’bah dan Hajar Aswad). Sebelah kanan pintu terdapat kotak dari marmer, tempat menyimpan alat keperluan kebersihan di dalam Ka’bah.

Di tengah–tengah Ka’bah, agak meninggi, terdapat 3 buah tiang penyangga yang terbuat dari kayu, yang dikenal dengan “Tiang Abdullah bin Zubair“. Dinamakan demikian karena Allah SWT telah memberikan kemuliaan kepada beliau, sebagai pembuat tiang penyangga pada atap Ka’bah untuk menghindari kerobohannya.

Sebelah utara Ka’bah terdapat pintu kecil yang dinamakan “Pintu Taubah”. Itu adalah tanda dari keteguhan. Pintu Taubah ini terbuat dari kayu pilihan yang dilapisi emas dan perak, yang terukir dan dilapisi kaca yang tebal sampai atap Ka’bah.

Pada dinding sebelah barat, yang berhadapan dengan pintu Ka’bah, digantungkan 9 pigura yang terbuat dari marmer, dan bertuliskan nama-nama penguasa atau khalifah yang telah memperbaiki dan memperbarui Ka’bah. Semuanya tertulis setelah abad 6 H.

Pada dinding timur antara pintu Ka’bah dan pintu Taubah, diletakkan keterangan tentang perbaikan yang dilakukan oleh Raja Fahd pada tahun 1419 H setelah perbaikan terakhir pada zaman Sultan Murod IV dari Utsmaniah pada tahun 1040 H.

Sisi-sisi Ka’bah yang empat dilapisi marmer putih setinggi 2 meter, dan di atasnya ditutupi gorden warna merah dan pink, yang terbuat dari bahan kain sutera yang bertuliskan “Syahadatain“ dan Asmaul-Husna dalam bentuk angka 8 atau 7 Arab berselang-seling. Hadiah dari Raja Fahd.

Di antara tiga tiang yang di tengah (Tiang Abdullah bin Zubair) ada tempat yang terbuat dari perak murni untuk menyimpan barang, seperti teko-teko, pajangan, dan barang-barang bersejarah lain yang terbuat dari emas dan perak, yang telah berusia ratusan tahun sebagai hadiah-hadiah dari Raja, Khalifah, dan para Sultan.

Pencucian Ka`bah biasanya dilakukan dua kali setiap tahun, yakni pada pertengahan bulan Sya`ban sebagai persiapan menghadapi musim umrah pada bulan Ramadhan, dan pertengahan Dzulqa`idah sebagai persiapan menyambut jamaah haji.

Ka`bah biasanya dicuci dengan air zamzam yang dicampur dengan mawar Thaif dan ambar, sedangkan dindingnya diharumkan dengan parfum misik.

Nizar As-Syaibi, putra tertua keluarga pengurus Masjidil Haram Syeikh Abdul Aziz As-Syaibi, menyebut pencucian Ka`bah merupakan tradisi yang disunnahkan namun tidak harus dilakukan pada waktu tertentu.

Secara historis, Rasulullah pernah sekali mencuci Ka`bah pada bulan Sya`ban, ketika beliau kembali ke Mekkah dalam peristiwa “Fathu Mekkah”, setelah beliau membersihkannya dari patung-patung sesembahan yang berada di dalam maupun di sekitar Ka`bah.

Sejak saat itu, pencucian Ka`bah menjadi sesuatu yang disunnahkan, namun tidak ada waktu tertentu yang dianggap paling utama untuk melakukannya. Ritual ini adalah bentuk penghormatan terhadap Ka`bah, khususnya saat sebelum umrah dan setelah haji.

Tujuan inilah yang paling utama ketimbang sekadar membersihkannya. Pada saat pencucian pun, pintu Ka`bah tetap tertutup. Pencucian ini tidak lebih dari sekadar membersihkan debu yang menempel di dinding Ka`bah.

Related

Moslem World 6367799795173933094

Recent

item