Orang Introvert Lebih Nyaman Saat Pandemi karena Bisa Sering Menyendiri? (Bagian 1)


“Banyak yang mengeluh nggak bisa main, tapi aku biasa aja,” ujar Dita (28), pengajar bahasa Jepang di Yogyakarta. Ketika kantornya berhenti beroperasi pada awal pandemi Covid-19, penyuka komik manga ini memutuskan untuk mengasah kemampuan menggambar secara otodidak, sembari ditemani kucing hitam kesayangannya. 

Dita memang tidak hobi plesiran, “Pandemi atau nggak, kalau libur ya aku lebih senang di rumah.” Terlepas suka menyendiri, ia tetap merasa santai tatkala diminta kembali masuk kantor untuk mengisi kelas tatap muka. “Toh pertemuan ini untuk menjelaskan materi, bukan ngobrol basa-basi,” imbuhnya. 

Rahmad (35) juga mengaku bahwa dirinya bukan tipe yang suka mengobrol, meskipun ia menikmati aktivitas jalan-jalan. Selama satu tahun pandemi, asisten dosen di kota gudeg ini rutin memberikan kuliah secara daring. 

Saat ditanya apakah ia merasa stres dengan kegiatan monoton di dalam rumah, atau terganggu dengan situasi di rumah karena baru saja punya bayi, Rahmad menggelengkan kepalanya. “Nggak juga. Justru senang ada anak, suasana baru,” ujarnya. 

Selain itu, Rahmad mengharapkan kuliah daring bisa terus dilanjutkan usai pandemi nanti. “Mengajar secara daring lebih efisien, terutama buatku yang perlu melakukan penelitian lapangan. Semisal aku harus pergi ke daerah untuk riset, aku bisa memberikan kuliah dari sana,” tandasnya. 

Dita dan Rahmad adalah segelintir pihak yang mengidentifikasi diri sebagai introvert, tipe kepribadian yang cenderung nyaman ketika menyendiri atau berada dalam lingkup pertemanan kecil. Pasalnya, dari situlah mereka dapat mengumpulkan energinya. 

Di spektrum berlawanan, orang dengan kepribadian ekstrovert relatif lebih bersemangat atau punya suasana hati lebih baik setelah bertemu banyak orang. Tidaklah mengherankan, introvert seperti Dita dan Rahmad tampak menikmati keseharian selama karantina, diimbangi dengan interaksi secukupnya dari aktivitas mengajar. 

Sejalan dengan pandangan umum, kaum introvert dianggap lebih tangguh dalam menjalani kehidupan terisolasi ketika pandemi. Karena sudah terbiasa menyepi, mereka tidak terkejut dengan ritme kegiatan dalam ruang gerak terbatas. Berkurangnya frekuensi untuk tatap muka langsung dengan banyak orang pun jadi semacam berkah. 

Sejak awal pandemi, media sudah heboh melukiskan karantina layaknya pengalaman surgawi bagi kaum introvert. Andrew Ferguson menulis di The Atlantic bahwa aturan karantina merupakan momen pas bagi para introvert untuk “memulihkan diri dari trauma” yang ditimbulkan oleh acara-acara sosial yang menguras energi mereka selama libur panjang akhir tahun, seperti perayaan Thanksgiving, Natal, Hanukkah, Tahun Baru. 

Sementara dalam paparannya di The New York Times, Joanne Kaufman mengulas bahwa sejumlah introvert mendapati “kepuasan dan kedamaian” di samping merasa lebih produktif dan berenergi. 

Seiring waktu, media sosial dibanjiri dengan berbagai meme kocak tentang bagaimana kaum introvert “berjaya” selama pandemi. 

Namun demikian, tetap ada titik jenuh yang dialami oleh siapapun selama karantina. Seperti dituangkan oleh Abby Olheiser dalam tulisannya di MIT Technology Review, selama pandemi, masyarakat berusaha menciptakan kembali dunia yang sempat hilang gara-gara pembatasan fisik, yakni dengan cara virtual. 

Seluruh pertemuan, mulai dari aktivitas belajar atau kuliah, rapat kantor, sampai minum-minum yang biasa dilakukan di bar, dipindah sedemikian rupa agar muat di dalam aplikasi video dan fitur chat, seperti Google Hangouts atau Zoom, aplikasi-aplikasi yang sebelumnya tidak didesain untuk menampung dua kehidupan (dunia sosial dan kerja) sekaligus. 

Semua orang, baik introvert, ekstrovert maupun campuran keduanya, pada akhirnya dibuat lelah dengan undangan tiada henti untuk menghadiri pertemuan virtual. Dalam tekanan, mereka tak kuasa untuk menolak. “Aku sedang tidak ingin bicara,” tampaknya bukan alasan yang mudah dimengerti pada situasi ketika mayoritas umat manusia merasa haus akan relasi dan komunikasi. 

Dampak karantina yang melelahkan terutama dirasakan oleh kelompok pekerja pada umumnya. Hasil survei tentang pandangan masyarakat terkait dampak sistem bekerja jarak jauh (WFH) setelah satu tahun pandemi terhadap 803.000 responden, terungkap bahwa nyaris separuh responden (47,2 persen) merasa kesepian atau terisolasi, sementara 32 persen merasakan tingkat stres yang tinggi. 

Introvert yang Tak Bisa Digeneralisasi 

Perlu dipahami pula, kepribadian tiap-tiap orang sangatlah unik, apapun kategorisasi kepribadiannya. Meskipun tampak nyaman dan bahagia dengan kehidupan menyepi selama pandemi, bukan berarti kepribadian introvert bisa digeneralisasi atau bersifat statis. 

Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa terdapat introvert yang cukup dinamis atau luwes. Sejumlah temuan ilmiah juga menunjukkan bahwa kelompok penyuka sepi ini punya kecenderungan untuk mengalami stres. 

Baca lanjutannya: Orang Introvert Lebih Nyaman Saat Pandemi karena Bisa Sering Menyendiri? (Bagian 2)

Related

Psychology 4043570738005082879

Recent

item