Waspadai Modus Penipuan di Instagram Berkedok Aktivisme Lingkungan (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini merupakan lanjutan uraian sebelumnya (Waspadai Modus Penipuan di Instagram Berkedok Aktivisme Lingkungan - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

“Trees for the Future tidak berafiliasi dengan Plant A Tree Co,” juru bicara organisasi menegaskan. “Begitu kami mengetahui keberadaan penggalangan dana itu, kami segera menghubungi organisasi untuk meminta klarifikasi mereka terkait penggalangan dananya. Kami telah melaporkan postingannya ke Instagram.”

Setidaknya beberapa kegiatan penanaman pohon yang diklaim dilakukan perusahaan tidak pernah terjadi. Dalam Insta Story tahun 2019 yang merinci pohon-pohon yang seharusnya ditanam di seluruh dunia, mereka memposting foto orang menanam 150 pohon di Toronto. Hasil pencarian membawa ke artikel tentang latihan menanam pohon yang diinisiasi perusahaan wiski Kanada pada 2017.

Saadioui mengatakan, “Kami mengadakan penggalangan dana untuk kegiatan amal yang kami peduli, menyumbangkan apa yang telah kami janjikan, dan menjual kalung untuk mendanai bisnis kami. Di mana letak penipuannya?”

Dia lalu menunjukkan profil Plant A Tree Co pada Eden Reforestation Projects, yang menyebutkan perusahaan telah menanam 6.500 pohon. Juru bicara organisasi menanggapi: “Kami telah memeriksa catatan dan menemukan Plant A Tree Co baru memberikan sumbangan yang tidak diminta dan menciptakan profil pendonor di situs kami. Kebijakan privasi tidak mengizinkan kami untuk membagikan informasi tanpa persetujuan pendonor.”

Postingan-postingan pada akun Instagram Plant A Tree Co menghasilkan engagement yang luar biasa tinggi. Dalam video YouTube yang sekarang telah dihapus, Saadioui membahas pentingnya menggunakan media sosial untuk menarik pelanggan ke toko. 

“Guna menemukan ceruk yang ideal untuk bisnis e-niaga, kalian harus mencari ceruk yang luas dengan komunitas interaktif [...] Mereka sangat interaktif dan sering terlibat di media sosial.”

Di video lain, dia memuja-muja Buzzsumo, platform yang membantu pemasar melacak tren online. “Platformnya membantu kalian menemukan produk atau topik paling viral di media sosial saat ini.”

Di masa lalu, Plant A Tree Co telah mengarahkan pengikutnya ke bisnis Saadioui lainnya, Parkr. Ini aplikasi sewa tempat parkir, tapi anehnya meminta pengguna memasukkan empat digit terakhir dari nomor jaminan sosial saat membuat akun.

Dengan iming-iming mendonasikan satu sen untuk setiap share, like, comment dan follow, Plant A Tree Co sebenarnya telah mencapai kesepakatan yang sangat bagus. Tapi kenapa mereka perlu menarik semua pengikutnya? 

“Setiap repost meningkatkan jumlah orang yang melihat profil kami,” tulis Plant A Tree Co di Instagram. “Semakin banyak view yang kami terima, semakin banyak kalung yang kami jual. Keuntungan yang diperoleh dari penjualan kalung sepenuhnya disumbangkan untuk kegiatan amal.”

Saadioui bersikukuh “100 persen” keuntungan telah disumbangkan, tapi dia tidak menyediakan rincian keuangannya. Seandainya hanya satu persen dari jutaan pengikut Plant A Tree Co membeli perhiasan itu, perusahaan akan menerima 10.000 pesanan. 

Seperti yang dibeberkan Saadioui di salah satu video YouTube-nya, dia menghasilkan pendapatan pasif $5.300 (Rp76 juta) sebulan dari bisnis semacam dropship. “Ini pada dasarnya arbitrase ritel, tetapi sangat terukur jika kalian memahami apa yang kalian lakukan.”

“Tanpa pemasaran yang tepat, kalian takkan pernah bisa sukses dalam bisnis ini,” imbuhnya.

Artikel ini hanyalah gambaran kecil bagaimana keserakahan bertabrakan dengan aktivisme tingkat permukaan yang dangkal dan penyebaran informasi keliru di platform.

Bagi Saadioui, dia tampaknya sukses melakukan strategi pivot klasik. Ketika artikel ini ditulis, Plant A Tree Co memperbarui keterangan di situsnya. Mereka menekankan uang yang terkumpul disumbangkan ke berbagai kegiatan sosial. Mereka juga sudah tidak berjualan kalung.

Related

Internet 8960304587786605961

Recent

item