Kisah Pria Kecanduan Judi hingga Terjerat Utang Rp 5 Miliar (Bagian 2)


Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Kisah Pria Kecanduan Judi hingga Terjerat Utang Rp 5 Miliar - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

'Punya utang judi sekitar Rp5 miliar'

Saya lalu putuskan pindah mengajar karena khawatir bakal ketahuan. Hidup saya berantakan, namun bertemu seorang kekasih bernama Charlotte dan, entah mengapa, saya bisa menyembunyikan "dosa-dosa" saya itu darinya.

Saya terus kepikiran untuk jujur ke dia, namun begitu khawatir bakal kehilangannya. Saya merasa, begitu mengaku, dia bakal pergi.

Kemudian, segalanya di luar kendali. Saya punya 76 akun taruhan online dan 23 pinjaman. Saya sudah mengutang dari 113 orang yang berbeda, dan punya utang judi Rp5 miliar yang harus segera dilunasi.

Saya ibarat sudah menekan tombol menghancurkan diri sendiri, dan selama dua bulan berikut saya bertaruh banyak uang sepanjang siang dan malam sambil mengira, kalau menang, langsung berhenti.

Saya lalu dipanggil kepala sekolah yang telah menerima keluhan dari teman-teman dan orangtua murid. Saya tidak punya tempat lagi untuk bersembunyi. Mereka bilang akan membuka penyelidikan, dan tahu saya bakal kehilangan pekerjaan, kehilangan rumah, dan diseret ke pengadilan karena menipu.

Saya malah putuskan berjudi adalah satu-satunya jalan keluar, dan berpikir bahwa saya akan selamat bila menang besar.

Saat itu adalah awal Festival Cheltenham, dan itu ajang yang tepat. Saya telepon seseorang, dan bilang bahwa seorang kerabat saya kecelakaan dan perlu uang £10.000 untuk membayar perawatan di rumah sakit. Saya berhasil dapat £50.000 setelah taruhan lomba pacuan kuda. Namun, itu belum cukup, saya mau lagi.

'Dunia seketika runtuh'

Jadi saya memutuskan untuk melakukan apa yang dianggap banyak orang sebagai hal yang terbodoh. Saya putuskan bertaruh £50.000 - semua uang yang saya menangkan sebelumnya - untuk seekor kuda pacu di lomba the Cheltenham Gold Cup.

Saya yakin bahwa kuda yang bernama Might Bite itu akan menang. Namun ternyata kuda itu tidak juara, dan dunia seketika runtuh.

Beberapa hari kemudian, saya mengundurkan diri dari pekerjaan, lalu mengambil kunci mobil dan berkendara selama tiga jam. Saya sempat memutuskan untuk bunuh diri karena merasa tidak ada pilihan lain.

Lalu muncul di benak saya, "Kamu harus bicara ke seseorang." Saya lalu hubungi adik. Saya kirim dia pesan tertulis mengenai masalah yang telah saya alami dan yang akan saya lakukan. Saya minta dia untuk mewakili ucapkan salam perpisahan kepada semua orang.

Dia coba menelepon saya, namun tidak saya jawab. Tekad saya sudah bulat. Lalu dia kirim pesan, yang akhirnya menyelamatkan hidup saya.

"Apapun yang kamu lakukan, jangan lakukan itu." Dia mengaku tidak akan mampu menanggungnya, begitu pula dengan kekasih dan keluarga saya. Itu adalah momen di mana saya berhenti memikirkan diri sendiri dan mulai memikirkan orang lain.

‘Mendapat kesempatan kedua'

Akhirnya saya bicara apa adanya kepada keluarga. Semua kebohongan yang saya buat, utang, dan situasi pekerjaan. Tidak sanggup menjelaskan seberapa sulitnya, namun itu adalah momen bagi saya untuk bisa melanjutkan hidup.

Mereka tidak marah. Mereka sadar saya butuh bantuan, dan membantu saya masuk ke pusat rehabilitasi. Saya langung berpikir, "hidupku mendapat kesempatan kedua."

Bulan berikutnya saat di rehab sungguh sulit. Saya harus mengambil tanggung jawab penuh atas apa yang telah saya lakukan.

Saya bertunangan dengan kekasih ketika keluar dari rehab, namun belum kepikiran apa yang akan dilakukan pada hidup saya. Saya menghubungi Asosiasi Pemain Kriket Profesional (PCA), yang memberi perhatian kepada atlet dan eks atlet kriket, walau ada yang kariernya sependek saya.

Mereka membantu saya secara finansial dan emosional, mengorganisir perawatan dan membuat rencana untuk membantu melunasi utang saya.

Saya punya keinginan yang membara untuk berbagi kisah saya. Saya tidak bangga dengan apa yang dulu saya perbuat, namun saya sadar betap mudah terjatuh dalam perangkap itu.

Saya lalu mulai memberikan kesaksian kepada para pemain kriket lewat PCA, demi mencegah mereka agar tidak berbuat kesalahan yang sama. Saya pun berbicara kepada mantan teman-teman sekolah di Northamptonshire.

Di saat yang sama, saya mulai bekerja untuk EPIC Risk Management, lembaga konsultan yang membantu mencegah kecanduan judi. Hingga kini saya sudah bicara di lebih dari 200 sekolah, 100 lebih organisasi olahraga, dan sekitar 50 institusi bisnis.

Saya benar-benar ingin pesan ini sampai kepada kaum muda, yang punya akses mudah untuk berjudi online. Bila saya bisa mengubah satu orang, maka itu semua akan bermanfaat.

Berjudi telah berdampak besar bagi hidup saya. Saya akan membayar semua utang saya dalam jangka waktu 15 tahun.

Saya kini menulis sebuah buku mengenai hidup saya, dan berbagi kisah. Ini hanya langkah kecil untuk membalas setelah merenggut banyak hal. Ini cara saya untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka yang telah menyelamatkan hidup saya.

Related

Inspiration 4602934822850680357

Recent

item