Mengapa Bursa Saham Membutuhkan Ahli Fisika dan Matematika?


James Harris Simmons menggunakan ilmu matematika untuk jual beli saham dan menjadi salah satu orang terkaya dunia. Goldman Sach, belasan tahun lalu juga dipimpin ahli fisika, Emanuel Derman.

Ada ribuan sarjana matematika dan fisika yang bekerja di perusahaan investasi Wall Street. Gajinya memang tidak setinggi para pialang yang jenius dan berbakat, tapi tetap termasuk tinggi di sana.

Mereka bekerja untuk "meramalkan" apakah saham akan naik atau turun, dengan sejumlah indikator. 

Yang diincar perusahaan investasi ini umumnya para jago matematika yang ambil S3 di kampus top seperti Harvard atau MIT. Kadang mereka sudah dibajak, biarpun belum lulus.

Seperti Elie Galam. Sebagai orang Prancis, ia kuliah di kampus top di sana, Ecole Cenrale Paris. Kemudian ia ambil S3 di Harvard.

Saat di Harvard, misalnya, dalam salah satu tugas Galam membuat program untuk mengindentifikasi si penulis dari satu artikel. Ia memasukkan sejumlah data untuk menghasilkan pola.

Kemampuan menghasilkan pola dari faktor-faktor yang kadang tidak "nyambung" ini, menarik salah satu perusahaan investasi di Wall Street, Blue Mountain Capital. Galam ditawari pekerjaan bergaji bagus dan kuliah S-3nya ia tinggalkan.

Tugasnya, membuat algoritma untuk menentukan, satu saham itu bakal naik atau turun. Belakangan, ia bikin perusahaan investasi sendiri, Panorama Partners. 

Related

Money 8851432504882065284

Recent

item