Sejarah Keluarga Rothschild dan Asal Usul Konspirasi (Bagian 2)


Naviri Magazine - Uraian ini adalah lanjutan uraian sebelumnya (Sejarah Keluarga Rothschild dan Asal Usul Konspirasi - Bagian 1). Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik dan urutan lebih lengkap, sebaiknya bacalah uraian sebelumnya terlebih dulu.

Wilhelm juga memiliki kekerabatan dengan sejumlah keluarga kerajaan Eropa lainnya. Inggris merupakan salah satu langganan setia dalam bisnis tentara sewaannya. Harap maklum, daerah koloni Inggris di seberang lautan sangat luas dan banyak.

Dalam bisnis ini, Rothschild bertindak sebagai dealer. Karena kerja Rothschild begitu memuaskan, Wilhelm pernah memberinya hibah uang sebanyak 600.000 pound atau senilai tiga juta dollar AS dalam bentuk deposito. Dari usahanya ini, Wilhelm memiliki banyak uang. Ketika meninggal, Wilhelm meninggalkan warisan terbesar dalam rekor warisan raja Eropa, yakni setara dengan 200 juta dollar AS. 

Sumber lainnya mengatakan bahwa uang sebesar tiga juta dollar AS itu sebenarnya berasal dari pembayaran sewa tentara kerajaan Inggris kepada Wilhelm, namun digelapkan oleh Rothschild (Jewish Encyclopedia, Vol. 10, h.494).

Dengan bermodalkan uang haram inilah, Rothschild membangun kerajaan bisnis perbankan miliknya yang pertama, dan menjadi bankir internasional pertama. Sebenarnya, Rothschild I tidak membangun kerajaannya sendiri. 

Beberapa tahun sebelumnya, ia telah mengirim anak bungsunya, Nathan Rothschild, yang dianggap paling berbakat ke Inggris, untuk memimpin bisnis keluarga di wilayah tersebut. Di London, Nathan mendirikan sebuah bank dagang, dan modalnya diberikan oleh Rothschild I sebesar tiga juta dollar AS yang berasal dari uang haram itu.

Di London, Nathan Rothschild menginventasikan uang dalam bentuk emas-emas batangan dari East India Company. Berasal dari uang haram, diputar dengan cara yang penuh dengan tipu daya, memakai sistem riba yang juga haram, kian berkembanglah bisnis keuangan keluarga Rothschild ke seluruh Eropa. Berdirilah cabang-cabang perusahaan Rothschild di Berlin, Paris, Napoli, dan Vienna. 

Rothschild I menempatkan setiap anaknya menjadi pemimpin usaha di cabang-cabang itu. Karl di Napoli, Jacob di Paris, Salomon di Vienna, dan Amshell III di Berlin. Kantor pusatnya tetap di London.

Rothschild I meninggal dunia pada 19 September 1812. Beberapa hari sebelum mangkat, ia menulis sebuah surat wasiat yang antara lain berbunyi:

– Hanya keturunan laki-laki yang diperbolehkan berbisnis. Semua posisi kunci harus dipegang oleh keluarga.

– Anggota keluarga hanya boleh mengawini saudara sepupu sekali (satu kakek) atau paling jauh sepupu dua kali (satu paman).

Dengan demikian, harta kekayaan keluarga tidak jatuh ke tangan orang lain. Awalnya, aturan ini dipegang ketat, tapi ketika banyak pengusaha Yahudi lainnya bermunculan sebagai pengusaha dunia, aturan ini dikendurkan. Walau demikian, hanya boleh mengawini anggota-anggota terpilih.

Dinasti Rothschild tidak punya sahabat atau sekutu sejati. Baginya, sahabat adalah mereka yang menguntungkan kantongnya. Jika tidak lagi menguntungkan, ia sudah menjadi bagian masa lalu dan dimasukkan ke tong sampah. Pangeran Wilhelm sendiri akhirnya dilupakan oleh Rothschild setelah ia berhasil menilep uangnya. 

Ketika Inggris dan Perancis berperang dengan memblokade pantai lawan masing-masing, hanya armada Rothschild yang bebas keluar masuk pelabuhan, karena Rothschild telah membiayai kedua pihak yang berperang tersebut.

Bank Sentral Inggris dan utang sebagai alat penjajahan

Beberapa orang menyangka jika pendirian Bank of England, bank sentral pertama di dunia, juga akibat campur tangan Dinasti Rothschild. Anggapan ini sebenarnya tidak tepat karena Rothschild I baru lahir di Bavaria pada tahun 1743, sedangkan Bank of England berdiri pada 27 Juli 1694.

Sebelum Dinasti Tameng Merah lahir, jaringan Luciferian, yang terdiri dari tokoh-tokoh Yahudi berpengaruh dunia yang dikenal dengan istilah “Para Konspirator”, para pewaris Templar, Orde Militeris yang kaya raya, telah mencanangkan untuk menguasai England yang sekarang menjadi Inggris dengan strategi lidah ular: 

Pertama, merekayasa pernikahan keluarga raja Inggris, sehingga nantinya para Raja Inggris berdarah Yahudi, dan yang kedua lewat provokasi perang melawan Prancis agar Inggris memerlukan uang yang banyak, di mana pihak Konspirasi akan memberi utang kepada Raja Inggris. Dengan utang, diharapkan kerajaan besar itu akan takluk.

Inilah fakta sejarah jika jaringan Yahudi Dunia sejak dulu telah menggunakan utang sebagai alat penakluk suatu negeri. Sekarang, Indonesia yang kaya raya, juga telah ditaklukkan dan dijajah oleh utang. 

Para tokoh Neo-Liberal di negeri ini yang gemar mengundang utang imperialis masuk ke negeri ini merupakan pelayan-pelayan kepentingan Luciferian. Banyak orang yang menjadi pendukung kelompok Luciferian ini, disebabkan mereka malas berpikir sehingga mudah ditipu mentah-mentah.

Perjalanan para Konspirator dalam menaklukkan Keraaan Inggris diawali suatu pertemuan sejumlah petinggi Ordo Kabbalah di Belanda. Mereka menggelar pertemuan, dan sepakat untuk menguasai Tahta Kerajan Inggris sepenuhnya dengan cara menurunkan Dinasti Stuart dan menggantinya dengan seseorang yang mereka bina dari Dinasti Hanover dari Istana Nassau, Bavaria.

Kala itu, Tahta Kerajaan Inggris tengah diduduki King Charles II (1660-1685). Raja Inggris masih kerabat dekat Duke of York. Mary adalah anak sulung dari Duke of York. Diam-diam, kelompok Konspirator mengatur strategi agar Mary yang masih gadis itu bertemu ‘Sang Pangeran’ bernama William II, salah seorang pangeran kerajaan Belanda dan pemimpin pasukan kerajaan. 

Mary dan William II pun bertemu dan saling tertarik. Pada tahun 1674, mereka menikah. Tahun 1685, King Charles II meninggal dan digantikan oleh James II yang memerintah sampai tahun 1688.

Dari hasil perkawinan antara William II dan Mary, lahir seorang putra yang kemudian dikenal sebagai William III, yang menikah dengan seorang putri King James II, bernama Mary II. 

William III, yang berdarah campuran antara Dinasti Stuart dengan Dinasti Hanover, ternyata menurut kelaziman tidak bisa menjadi Raja Inggris, sebab bukan berasal dari garis keturunan laki-laki Inggris, melainkan dari garis perempuan. Mary II, istrinya, yang lebih berhak menyandang gelar Queen.

Di sinilah para petinggi Yahudi melancarkan konspirasi dengan mengobarkan ‘Glorious Revolution’, dan akhirnya berkat Partai Whig yang melakukan kerja sama diam-diam dengan tokoh-tokoh Yahudi dan Partai Tory yang bersikap pragmatis, revolusi tanpa darah itu berhasil menaikkan William III sebagai Raja Inggris. 

Beberapa tahun sebelumnya, lewat tangan Oliver Cromwell, kekuatan Yahudi juga telah ‘menyikat’ King Charles I dan menguasai lembaga-lembaga keuangan di kerajaan itu. 

Dengan berkuasanya William III, maka inilah awal hegemoni Dinasti Hanover bertahta di Kerajaan Inggris sampai sekarang. Apalagi Dinasti Windsor yang berkuasa di Kerajaan Inggris sekarang merupakan keturunan langsung King Edward III (Prince of Wales) yang merupakan keturunan Hanover.

Baca lanjutannya: Sejarah Keluarga Rothschild dan Asal Usul Konspirasi (Bagian 3)

Related

History 6495920440877729981

Recent

item