Sejarah dan Kisah-kisah Menarik di Balik Majalah Berusia 111 Tahun (Bagian 1)


Conde Nast adalah salah satu korporasi media yang bertahan lama di bidang penerbitan majalah berskala internasional. Perusahaan yang menerbitkan Vogue, New Yorker, Vanity Fair, GQ, Bon Appetit, Allure, Wired, Architectural Digest, Teen Vogue, Pitchfork, dan Glamor itu berumur lebih dari 111 tahun.

Namun, belakangan, Conde Nast jadi bahan pemberitaan sejumlah media karena dianggap rasis. Salah satu kasus yang benar-benar menyita perhatian adalah pengunduran diri Adam Rapoport dari jabatan pemimpin redaksi majalah Bon Appetit.

Rapoport mengundurkan diri setelah foto lawasnya--yang dipublikasikan di media sosial pada 2004--kembali muncul di Twitter. Foto itu memperlihatkan Adam dan pasangannya sedang berpose di sebuah pesta Halloween. Mereka berdandan seperti orang Puerto Rico dan warna kulit Adam tampak lebih coklat dibandingkan aslinya.

Foto itu kemudian memantik perdebatan publik di media sosial dan juga di kalangan internal Bon Appetit. Rapoport dianggap melakukan "apropriasi kebudayaan" (cultural appropriation). 

Salah satu pegawai Bon Apetit berkata kepada New York Times bahwa ia merasa marah dan jijik melihat tindakan Rapoport yang menurutnya tidak merepresentasikan orang kulit berwarna dengan sopan.

Sebagai catatan, apropriasi kebudayaan adalah upaya meminjam atau menggunakan elemen kebudayaan lain (seni, musik, fesyen, dan lain sebagainya) kelompok masyarakat yang dianggap marjinal atau memiliki sejarah terpinggirkan tanpa mengakui sumber inspirasinya. 

Filsuf seni John O. Young dalam Cultural Appropriation and the Arts (2008) memaparkan kecenderungan ini telah terjadi sejak lampau di negara-negara Barat, mulai dari kumpulan puisi Goethe West-östlicher Diwan yang meminjam banyak elemen dari puisi-puisi Persia hingga musik Blues dan Jazz kulit putih yang mencuri pengaruh musik kulit hitam.

Menurut laporan New York Times, setelah foto tersebut kembali beredar, redaksi Bon Appetit mengadakan beberapa kali rapat untuk membahas perilaku Rapoport. Dalam rapat tersebut terungkap bahwa ada perilaku rasis lain yang terjadi dalam perusahaan.

“Para pekerja menganggap foto hanyalah salah satu bukti dari sekian banyak ketidakadilan yang dilakukan terhadap karyawan kulit berwarna yang bekerja di majalah Bon Appetit,” tulis New York Times.

Guardian sempat mewawancara beberapa orang yang pernah bekerja di Bon Appetit. Mereka menyatakan alasan keluar dari perusahaan adalah karena perusahaan tidak kunjung menggubris sejumlah permintaan yang diajukan oleh pekerja kulit berwarna. Namun, pihak yang diwawancarai tidak menjelaskan jenis permintaan yang diajukan kepada perusahaan.

Perasaan terdiskriminasi secara rasial tidak hanya dialami oleh karyawan Bon Appetit, melainkan juga oleh sejumlah mantan karyawan kulit berwarna di Conde Nast. 

Jurnalis Ginia Bellafante menyebut beberapa mantan karyawan Conde Nast yang bercerita bahwa mereka kerap diabaikan, distereotipkan oleh atasan yang berkulit putih, dan kesulitan mengakses fasilitas yang dibutuhkan untuk mempermudah pekerjaan.

Para mantan pekerja itu tidak berani bicara terbuka soal tantangan yang sempat mereka alami lantaran takut dicap sebagai tukang protes sehingga sulit mencari pekerjaan baru.

Anna Wintour, Direktur kreatif Conde Nast yang juga pemimpin redaksi Vogue edisi AS selama 33 tahun, mengakui sampai saat ini korporasi Conde Nast belum memberi cukup ruang bagi pekerja non-kulit putih untuk leluasa berkarir di perusahaan.

Sejauh ini upaya-upaya yang dilakukan untuk merealisasikan wacana keragaman dan inklusivitas adalah menampilkan pesohor non-kulit putih sebagai model sampul majalah.

Sosok kulit berwarna yang pertama kali jadi sampul majalah adalah pebasket Lebron James pada 2008. Namun alih-alih dipuji, sampul itu malah dianggap meniru desain poster film King Kong.

Pekerjaan rumah Conde Nast untuk membuat perusahaan menerapkan prinsip keragaman dan inklusivitas memang masih banyak. Saat ini baru Teen Vogue dan British Vogue bisa dibilang sebagai dua media gaya hidup yang cukup progresif dalam membawa isu-isu sosial di korporasi tersebut.

Teen Vogue dan British Vogue

Teen Vogue berubah sejak 2015, ketika Phillip Picardi menjabat sebagai editor edisi online. Sebelum 2015, Teen Vogue ialah majalah remaja yang fokus pada isu fesyen, mode, dan selebritas dengan target pembaca remaja perempuan. Saat itu produk Teen Vogue bukanlah majalah remaja unggulan.

Semua berubah saat Picardi berani membahas isu politik dan LGBTQ. Teen Vogue mulai bersinar. Picardi mengawali transformasi Teen Vogue dengan membahas ketimpangan penghasilan antara laki-laki dan perempuan di dunia kerja, penggunaan kontrasepsi pada remaja, hingga isu aborsi.

Setelah itu tim Picardi membahas kisah Freddie Gray, pria kulit hitam yang tewas dalam tahanan polisi.

Konten-konten sosial-politik ini membuat Teen Vogue dibaca sekitar empat juta orang per bulan pada 2015.

Seiring waktu, Teen Vogue mencoba formula baru dengan mempublikasikan konten-konten politik yang dianggap tabu untuk diterbitkan di media massa arus utama AS, misalnya tentang Karl Marx, Marxisme, dan sosialisme.

Dalam sebuah artikel tentang Karl Marx, penulis Teen Vogue mewawancarai dosen dari sejumlah universitas Amerika. Salah seorang dosen mengaku telah memberikan tugas kepada mahasiswanya untuk membayangkan bagaimana kehidupan masyarakat berjalan jika tidak ada kapitalisme.

Ia memberi contoh pencaplokan lahan dari penduduk asli dan perbudakan sebagai akibat dari kapitalisme.

Dalam wawancaranya dengan David Palumbo-Liu, profesor di Stanford University, Redaktur Eksekutif Teen Vogue Samhita Mukhopadhyay menyatakan tidak semua orang menyukai konten-konten politik Teen Vogue. Tetapi, ia menambahkan, media akan sulit bertahan jika mengandalkan format tradisional.

"Aku jurnalis yang serius. Tim kami muda, beragam, dan haus pengetahuan. Pembaca kami menghendaki sajian yang berimbang. Mereka ingin tahu soal pernikahan Bieber dan Hailey tetapi mereka juga mau mengerti pidato Greta Thunberg sekaligus ingin tahu tindakan-tindakan buruk apa saja yang sudah dilaukan Trump," ujarnya, seperti yang dikutip dalam wawancaranya dengan majalah sosialis AS Jacobin.

Baca lanjutannya: Sejarah dan Kisah-kisah Menarik di Balik Majalah Berusia 111 Tahun (Bagian 2)

Related

Business 1605593300232872391

Recent

item