Venezuela, dari Krisis Ekonomi Sampai Penembakan dan Penculikan

Venezuela, dari Krisis Ekonomi Sampai Penembakan dan Penculikan

Naviri Magazine - Masalah ekonomi kerap berkait erat dengan masalah sosial. Ketika ekonomi mengalami masalah atau krisis, masalah itu akan merembet menjadi masalah sosial, hingga terjadi aneka kerusuhan hingga tindak kejahatan. Setidaknya, kenyataan itulah yang kini terjadi di Venezuela.

Karena krisis ekonomi yang parah, banyak rakyat Venezuela yang melakukan demonstrasi. Namun, aksi unjuk rasa itu kadang harus berhadapan dengan pihak yang pro pemerintah, hingga terjadi bentrokan.

Belum lama, seorang perawat berusia 61 tahun tewas akibat tertembak, saat menunggu untuk memberikan suara dalam referendum tidak resmi yang digelar kelompok oposisi di ibu kota Venezuela, Caracas.

Seorang pria bersepeda motor menembaki sejumlah orang yang tengah antre, sehingga menewaskan perempuan itu serta melukai tiga orang lainnya.

Pihak oposisi menuduh kelompok "paramiliter" sebagai pelaku, sementara video yang diambil dari tempat kejadian menunjukkan orang-orang berlarian menjauh dari arah tembakan. Banyak di antaranya melarikan diri ke gereja.

Komentar oposisi

Juru bicara kelompok oposisi, Carlos Ocariz, mengomentari kasus penembakan dan mengatakan, "Kami meratapi kejadian itu, dengan rasa sakit yang tak terkira."

Kejaksaan Venezuela mengatakan akan menyelidiki insiden tersebut, sementara sejumlah laporan menyebut perempuan itu bernama Xiomara Soledad Scott. Dia meninggal beberapa menit setelah tiba di rumah sakit.

Secara terpisah, seorang jurnalis, Luis Olavarrieta, telah diculik, dirampok dan dipukuli oleh sekelompok orang. Tetapi dia berhasil melarikan diri, dan sejumlah foto yang beredar memperlihatkan dirinya tengah dirawat di rumah sakit.

Komentar Nicolas Maduro

Bagaimanapun, sebuah pemungutan suara resmi akan digelar untuk pembentukan majelis baru, yang memiliki kekuatan menyusun konstitusi yang baru dan membubarkan institusi negara.

Namun, para kritikus menganggap majelis baru tersebut sebagai tindakan yang mengarah pada kediktatoran.

Para politisi oposisi kemudian menggelar jajak pendapat tidak resmi, dengan mendirikan tempat pemungutan suara di bioskop, lapangan olah raga, dan alun-alun di Venezuela. Jajak pendapat ini juga digelar di lebih dari 100 negara di seluruh dunia.

Namun demikian, Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, menggambarkan pemungutan suara tidak resmi itu sebagai "tidak berarti".

"Mereka melakukan konsultasi hanya dengan partai-partai oposisi, dengan mekanisme mereka sendiri, tanpa mengikuti aturan pemilu, tanpa verifikasi terlebih dahulu. Seolah-olah mereka otonom dan memutuskan sendiri," katanya.

Related

International 1938847577964137187

Recent

item