Idi Amin, Orang Bodoh dan Buta Huruf yang Jadi Presiden

Idi Amin, Orang Bodoh dan Buta Huruf yang Jadi Presiden

Naviri.Org - Ada banyak presiden dan pemimpin negara, dan masing-masing mereka memiliki kualitas kepemimpinan yang mumpuni serta tingkat pendidikan yang baik. Namun, tidak begitu dengan beberapa pemimpin negara yang juga menjadi diktator. Adolf Hitler, dipercaya sebagian orang, adalah seorang yang bodoh. Begitu pula Idi Amin yang menjadi diktator Uganda. Ia seorang bodoh yang bahkan buta huruf.

Pertanyaannya, bagaimana seorang bodoh dan buta huruf seperti Idi Amin bisa menjadi presiden Uganda, bahkan memegang kekuasaan mutlak sebagai diktator?

Jika merunut sejarah, kepemimpinan dan kebuasan Amin tak muncul dari ruang hampa, melainkan efek dari praktik kolonialisme Inggris.

Uganda berada dalam kekuasaan Protektorat Inggris sejak 1890-an, ketika 32.000 buruh dari India—saat itu di bawah kekuasaan Inggris—diboyong ke Afrika Timur untuk dipekerjakan dalam proyek kereta api. Sebagian besar bisa pulang, tapi 6.724 lainnya tetap tinggal di Uganda untuk jadi pedagang, mandor produksi pemintalan kapas, atau pekerjaan lainnya.

Fase tersebut mengawali perkembangan populasi orang Asia di Uganda, yang sebagian di antaranya lebih mapan secara ekonomi ketimbang rakyat Uganda sendiri.

Beberapa peneliti menunjukkan bahwa Tentara Kolonial Inggris berperan penting membesarkan Amin. Pada 1946, Amin bergabung dengan King's African Rifles atau KAR, batalion Tentara Kolonial Inggris yang berisi campuran prajurit Inggris dan prajurit dari wilayah Afrika jajahan Inggris.

Karier Amin di KAR terbilang cemerlang. Awalnya, ia cuma asisten juru masak di tangsi, tapi beberapa tahun berselang karirnya melesat ke posisi Letnan (tak hanya itu, dia letnan pribumi Uganda pertama!). Amin dilatih secara intensif untuk membantu Inggris melawan pemberontak Somalia dalam Perang Shifta dan pemberontak Mau Mau di Kenya.

Usai kemerdekaan Uganada pada 1962, Amin dipromosikan sebagai kapten dan setahun kemudian pangkatnya naik jadi mayor. Ia diangkat sebagai Wakil Komandan Angkatan Darat pada tahun 1964, dan tahun berikutnya sebagai Panglima Angkatan Darat. Pada 1970, setahun kudeta militer terhadap Presiden Obote, Amin dipromosikan sebagai Panglima Angkatan Bersenjata Uganda.

Amin adalah prajurit kesayangan Tentara Kolonial Inggris. Perawakannya yang tinggi (193 cm) dan atletis (mantan juara tinju kelas berat periode 1951-1960, juga atlet renang dan rugby) membuatnya mudah bersaing dengan tentara lain di lapangan, meski sebenarnya ia buta huruf. Amin jadi sosok penting di tiap operasi militer Inggris di tanah Uganda.

Kendati kerap berlaku sadis di lapangan, Amin selalu lolos dari hukuman. Pada 1962, ia ditugaskan untuk menyelidiki perselisihan terkait ternak yang melibatkan beberapa suku di Turkana, Kenya. Begitu tugasnya berakhir, lokasi perselisihan menjelma ajang pembantaian dengan korban para warga desa. Menurut para saksi, Amin adalah otak dari pembantaian tersebut.

Tapi Amin beruntung; otoritas Inggris di Kampala memutuskan tak menjatuhkan hukuman. Mereka menilai Amin terlalu berharga untuk dihukum. Ia memang sudah dipersiapkan mengisi jabatan penting dalam tubuh militer Uganda setelah menjadi negara mandiri. Harapan ini tercapai, hanya saja Inggris rupanya secara tak sadar telah membesarkan seorang monster yang akhirnya menyeret rakyat Uganda ke neraka selama hampir satu dekade.


Related

Insight 2682614730850443676

Recent

Hot in week

Ebook

Koleksi Ribuan Ebook Indonesia Terbaik dan Terlengkap

Dapatkan koleksi ribuan e-book Indonesia terbaik dan terlengkap. Penting dimiliki Anda yang gemar membaca, menuntut ilmu,  dan senang menamb...

item