OKB, Gaya Hidup Bugar, dan Hobi Pamer di Media Sosial


Naviri Magazine - Di media sosial, kadang ada orang-orang yang “overacting” dalam pamer. Orang yang baru memiliki barang-barang baru, misalnya, tampak sangat bersemangat dalam memamerkan barang-barang yang baru dibelinya, khususnya jika barang itu berharga mahal. 

Biasanya, orang-orang yang melihat itu akan menganggap si tukang pamer sebagai OKB atau orang kaya baru. Meski orang yang sudah lama kaya juga kadang masih suka pamer serupa.

Selain OKB, sebenarnya ada istilah lain yang mirip, yaitu OBB atau orang baru bugar. Jika OKB bisa ditandai dengan seringnya mengunggah foto-foto terkait barang-barang mahal, OBB bisa ditandai dengan kesukaan memamerkan foto-foto terkait gaya hidup bugar yang kini dijalani.

Belakangan ini, selain puluhan tren diet dan latihan fisik, tanpa disadari ada tren pamer kebugaran, bukan hanya kekayaan. Orang berlomba-lomba menunjukkan betapa mereka hidup sehat dan bugar.

Sarapan granola, unggah fotonya. Makan siang salad, bagikan fotonya. Latihan di pusat kebugaran, berswafoto. Lari 5 kilometer, unggah swafoto. Semua media sosial dipakai untuk mengunggah foto makanan, swafoto olahraga atau otot badan. Walau bukan atlet tapi seolah perlu pengakuan bahwa hidupnya bugar.

Begitulah tingkah laku OBB. Setiap hari misinya adalah menyebarkan apapun untuk menunjukkan bahwa dirinya bugar. Alasannya untuk menginspirasi banyak orang. Namun apakah caranya dengan memotret makanan dan foto olahraga setiap hari?

Carlo Tamba, instruktur bootcamp, mengakui pada dasarnya semua manusia butuh validasi. Ia pun termasuk salah satu OBB, dulu. "Saya juga merasakan hal yang sama. Siapa sih yang tidak suka dipuji? Tapi seiring waktu, saya terganggu oleh dorongan untuk mendapatkan pengakuan tersebut," katanya.

Ia tak menceburkan diri ke dalam dunia kebugaran demi validasi di media sosial. Ia melakukannya karena fitness layaknya identitas bagi dirinya.

Identitas bisa berarti satu atau beberapa karakteristik yang membedakan seseorang dengan orang lainnya. Identitas bisa berarti cara kita memandang diri, atau orang lain memandang kita; termasuk dengan sistem kepercayaan dan bagaimana menjalani hidup.

Salah satu tanda kita telah menjadikan kebugaran sebagai identitas, adalah saat pendapat orang lain atas aktivitas dan bentuk tubuh kita seolah sangat penting.

Lalu bagaimana menjaga agar upaya menjaga kebugaran tidak menggerogoti identitas? Berikut tip dari Carlo Tamba.

Pertama, waspadalah akan kebutuhan kita mendapatkan validasi. Pengakuan akan datang datang sendiri jika orang merasakan perubahan positif yang mereka lihat dan rasakan karena kita sudah menjadi bugar.

Tidak perlu memancing pengakuan dengan mengunggah status nonstop. Tidak masalah jika Anda mengunggah perjalanan fitness. Tapi sering-seringlah bertanya, bagaimana agar apa yang Anda unggah di media sosial informatif, lucu, serta menyenangkan bagi yang melihat.

Kedua, belajar memandang diri sebagai sosok yang baik. Tidak apa jika tidak punya tubuh layaknya idola Hollywood atau model Victoria's Secret. Jangan memandang rendah terhadap diri sendiri hanya karena penampilan tak sesuai keinginan. Jangan menekuni kegiatan fitness demi menjadi seperti orang lain.

Ketiga, terus ingatkan diri sendiri bahwa kebugaran adalah satu-satunya jalan memperbaiki hidup. Hidup yang bugar bukan dimulai di gym. Hidup yang bugar dimulai di rumah, saat Anda bangun tidur dan memutuskan apa saja yang Anda akan lakukan hari itu untuk menjaga kebugaran.

Sekali lagi, pengakuan atas segala aktivitas kebugaran yang Anda tunjukkan untuk publik bisa memberi identitas palsu. Hidup Anda lebih dari sekadar latihan fisik yang Anda lakukan dan makanan sehat yang Anda konsumsi.

Anda cantik walau tidak ada orang yang mengatakan betapa Anda telah bertransformasi secara fisik. Kebugaran sebaiknya tidak menjadi identitas, melainkan bagian dari diri Anda.

Related

Lifestyle 6048718162755600165

Recent

item